Senyum haru tak henti menghiasi wajah Saharuddin (34) ketika lampu di rumah sederhananya akhirnya menyala. Cahaya itu bukan sekadar menerangi ruangan, tetapi juga menjadi penanda berakhirnya penantian panjang seorang kepala keluarga yang selama bertahun-tahun harus bergantung pada aliran listrik dari rumah tetangga.
Di sebuah rumah berdinding seng dengan lantai beralas terpal di Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Saharuddin menjalani hari-harinya bersama istri, dua anak yang masih berusia 7 tahun dan 6 bulan, serta mertuanya. Sebagai tulang punggung keluarga, ia bekerja sebagai buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup enam anggota keluarganya.
Di balik kesederhanaan hidupnya, Saharuddin menyimpan semangat yang tak pernah padam. Meski dirinya dan sang istri memiliki keterbatasan dalam berbicara, hal itu tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah. Setiap hari ia berangkat bekerja, berharap penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Selama bertahun-tahun, rumah itu belum memiliki sambungan listrik sendiri. Untuk mendapatkan penerangan, Saharuddin menyambungkan listrik dari rumah tetangga dengan biaya sekitar Rp60 ribu setiap bulan. Di tengah penghasilan yang pas-pasan, pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan yang harus disisihkan demi menghadirkan cahaya bagi keluarganya.
Harapan itu akhirnya datang melalui Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pada Tahun Anggaran 2025, rumah Saharuddin menjadi salah satu dari 86 rumah tangga di Kabupaten Barru yang menerima bantuan pemasangan listrik baru secara gratis.
Kini, rumah sederhana yang selama ini bergantung pada sambungan listrik tetangga telah memiliki akses listrik secara mandiri. Bagi Saharuddin, bantuan tersebut bukan hanya mengurangi beban pengeluaran bulanan, tetapi juga menghadirkan rasa tenang karena keluarganya dapat menikmati listrik yang aman dan layak.
Dengan penuh rasa syukur, Saharuddin mengungkapkan kebahagiaannya setelah rumahnya resmi dialiri listrik.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM yang telah memberikan bantuan pemasangan listrik gratis. Alhamdulillah, sekarang rumah kami sudah memiliki listrik sendiri. Sebelumnya kami menyalurkan listrik dari rumah tetangga dengan biaya sekitar Rp60 ribu per bulan,” ujar Saharuddin saat penyalaan BPBL di Kabupaten Barru, Kamis (9/7/2026).
Bagi banyak orang, listrik mungkin telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi Saharuddin, cahaya yang kini menerangi rumahnya memiliki arti yang jauh lebih dalam. Cahaya itu menghadirkan kemandirian, mengurangi beban hidup, sekaligus menjadi simbol hadirnya negara bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dari rumah sederhana di Kabupaten Barru, kisah Saharuddin menjadi pengingat bahwa Program BPBL bukan sekadar menghadirkan sambungan listrik. Program ini membawa harapan baru bagi keluarga prasejahtera untuk menjalani kehidupan yang lebih layak, lebih aman, dan membuka peluang menuju masa depan yang lebih baik. (MN)