Ditjen Gatrik Dorong Peran Aktif Perempuan dalam Ekosistem KBLBB
Ringkasan Berita
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong peran aktif perempuan dalam pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Perempuan memiliki peran penting di seluruh rantai ekosistem KBLBB, mulai dari pembuat kebijakan, peneliti dan inovator, pelaku industri, akademisi, pengguna, hingga penggerak komunitas.
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong peran aktif perempuan dalam pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Perempuan memiliki peran penting di seluruh rantai ekosistem KBLBB, mulai dari pembuat kebijakan, peneliti dan inovator, pelaku industri, akademisi, pengguna, hingga penggerak komunitas.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andriah Feby Misna dalam sambutannya pada Workshop Pengarus Utamaan Perempuan Dalam Ekosistem KBLBB di Jakarta, Rabu (28/01/2025).
Menurut Feby, peran aktif perempuan dalam ekosistem KBLBB dapat dilakukan melalui berbagai aspek. Pertama, sebagai pembuat kebijakan dan regulator, perempuan berkontribusi memastikan kebijakan dan regulasi KBLBB bersifat inklusif, responsif gender, dan mengakomodasi kebutuhan seluruh kelompok masyarakat.
Selanjutnya disebut Feby, perempuan juga bisa berperan sebagai akademisi, peneliti, dan inovator teknologi, khususnya dalam pengembangan riset, desain, serta peningkatan keselamatan dan kenyamanan kendaraan listrik.
Selain itu, perempuan juga memiliki peran penting sebagai pelaku industri dan tenaga profesional, baik di sektor manufaktur dan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. Partisipasi perempuan di sektor ini turut mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.
“Kita perlu mendorong keterlibatan perempuan di sektor energi, baik itu sebagai pengguna energi ataupun sebagai pembuat kebijakan,” tegas Febby.
Feby menegaskan bahwa pengembangan ekosistem KBLBB tidak dapat dilepaskan dari perspektif pengarusutamaan gender. Pengarusutamaan gender harus dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan, antara lain melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan perempuan di bidang energi, perluasan akses terhadap energi bersih, peningkatan partisipasi perempuan di tingkat komunitas, serta penguatan sosialisasi dan pemberdayaan perempuan.
“Dalam sektor energi dan ketenagalistrikan, pengarusutamaan gender bukan sekadar isu keterwakilan, melainkan cara pandang untuk memastikan kebijakan dan program benar-benar berjalan untuk kebutuhan masyarakat secara adil dan efektif,” papar Feby.
Pada kesempatan yang sama, narasumber workshop Executive Vice President (EVP) Pengembangan Produk Niaga PT PLN (Persero) Ririn Rachmawardini menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengembangan electric vehicle (EV) ecosystem. Menurutnya, perempuan berpotensi menjadi agen perubahan karena cenderung memiliki perilaku yang lebih pro-lingkungan.
“Dalam hal sebuah perubahan transisi energi di Indonesia, ini bisa menjadi settle kalau misalnya semakin banyaknya perempuan-perempuan yang masuk ke dalam transisi energi ini, khususnya dalam hal percepatan EV, ini juga bisa mempercepat penetrasi EV di dalam masyarakat Indonesia,” jelas Ririn.
Workshop dihadiri oleh Kementerian/Lembaga, PT PLN (Persero), United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Asosiasi Kendaraan Listrik, serta ENTREV. (RO)