Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menjawab Tantangan Penguatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) melalui Skema Pembiayaan Inovatif” di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Kegiatan ini menjadi forum dialog strategis lintas pemangku kepentingan untuk mendorong akselerasi pengembangan kendaraan listrik nasional, khususnya pada sektor komersial yang memiliki kontribusi signifikan terhadap penurunan emisi di sektor transportasi.
Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan Ferry Triansyah menegaskan bahwa percepatan adopsi KBLBB memerlukan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur pengisian maupun dukungan pembiayaan.
“Percepatan adopsi KBLBB tidak hanya bergantung pada peningkatan jumlah kendaraan, tetapi juga kesiapan infrastruktur pengisian dan dukungan skema pembiayaan yang inovatif serta berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan kendaraan listrik yang terus meningkat perlu diimbangi dengan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) yang merata, kemudahan perizinan, serta keterlibatan lembaga keuangan guna menurunkan hambatan investasi awal.
Sejalan dengan hal tersebut, Chief of Growth Officer Think Policy Florida Andriana menyampaikan bahwa percepatan adopsi kendaraan listrik perlu dilakukan melalui pendekatan terintegrasi yang mampu menjawab tantangan struktural, terutama di sektor komersial.
“Jika ingin mempercepat adopsi KBLBB, pendekatannya harus komprehensif dan berbasis ekosistem, mulai dari kendaraan, baterai, infrastruktur pengisian, hingga pembiayaan hijau yang mampu menurunkan beban investasi awal,” jelasnya.
Dari sisi industri, Ketua Tim Kerja Industri KBLBB Kementerian Perindustrian Patia Jungjungan Monangdo menyampaikan bahwa industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi yang besar dan menunjukkan perkembangan positif, termasuk pada segmen kendaraan listrik yang didukung investasi signifikan.
“Pemerintah terus mendorong penguatan industri kendaraan listrik melalui kebijakan TKDN dan insentif seperti PPNBM dalam program LCEV. Kami juga mendukung pembahasan skema pembiayaan yang dapat mempercepat penggunaan kendaraan listrik, khususnya di sektor komersial,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan rantai pasok baterai dalam negeri menjadi fokus strategis guna meningkatkan kandungan lokal sesuai roadmap pengembangan industri hingga tahun 2030.
FGD ini melibatkan perwakilan kementerian/lembaga, pelaku industri, penyedia infrastruktur pengisian, lembaga pembiayaan, asosiasi, serta mitra pembangunan. Melalui forum ini, diharapkan terumuskan langkah-langkah konkret yang dapat mempercepat implementasi kebijakan KBLBB di lapangan. (NH)