Listrik Kembali Hadir, Asa Warga Desa Sembuang Kian Menyala
Ringkasan Berita
Di antara sisa lumpur yang masih melekat di halaman rumah dan tumpukan material bekas banjir bandang, deru mesin generator set (genset) perlahan memecah keheningan. Suara itu sederhana, namun sarat makna. Bagi warga Desa Sembuang, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, denting mesin tersebut menandai satu hal penting: listrik kembali hadir, harapan mulai menyala.
Di antara sisa lumpur yang masih melekat di halaman rumah dan tumpukan material bekas banjir bandang, deru mesin _generator set_ (genset) perlahan memecah keheningan. Suara itu sederhana, namun sarat makna. Bagi warga Desa Sembuang, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, denting mesin tersebut menandai satu hal penting: listrik kembali hadir, harapan mulai menyala.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) menyalurkan bantuan genset bagi warga terdampak banjir bandang di desa tersebut, Sabtu (3/1/2026). Bantuan ini menjadi langkah cepat pemerintah untuk memastikan kebutuhan listrik masyarakat tetap terpenuhi, meski infrastruktur kelistrikan rusak parah akibat bencana.
Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Peureulak, Andre Harmaizi mengatakan, seluruh bantuan genset di poskonya telah disalurkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak.
“Seluruh bantuan genset telah disalurkan dan saat ini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak banjir bandang,” ujar Andre.
Namun, di balik tibanya bantuan tersebut, tersimpan perjuangan yang tak ringan. Cuaca ekstrem serta rusaknya akses infrastruktur memaksa petugas bekerja di luar batas kenyamanan. Jalan yang terputus dan jembatan yang ambruk membuat sebagian genset tak bisa diangkut dengan kendaraan. Dalam kondisi itu, petugas harus memikul dan membawa genset secara manual agar bantuan tetap sampai ke tangan warga.
“Beberapa lokasi tidak bisa dilalui kendaraan. Petugas harus membawa genset secara manual agar bantuan tetap sampai ke masyarakat,” jelas Andre.
Kepala Desa Sembuang, Ilyas, mengungkapkan bahwa desanya menerima dua unit genset dari pemerintah serta perbaikan empat tiang listrik dari PLN. Bantuan tersebut kembali menyalakan lampu-lampu rumah warga yang sempat padam total sejak bencana melanda.
“Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat kami karena setiap malam desa kami gelap gulita,” kata Ilyas.
Ia masih mengingat jelas hari-hari setelah longsor dan banjir bandang terjadi. Selama beberapa waktu, desa itu benar-benar tenggelam dalam gelap. Tanpa listrik, aktivitas warga lumpuh. Pelayanan masyarakat terhenti, roda ekonomi pun nyaris tak bergerak.
“Selama beberapa waktu, desa kami tidak memiliki akses listrik sama sekali. Pelayanan masyarakat dan kegiatan ekonomi sangat terganggu,” tuturnya.
Penyaluran 1.000 genset dari Kementerian ESDM merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam masa tanggap darurat bencana. Sebelumnya, pada 27 Desember 2025, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melepas pendistribusian 1.000 unit genset ke berbagai wilayah terdampak bencana di Aceh sebagai solusi sementara bagi daerah yang belum dapat dijangkau jaringan listrik tegangan rendah.
Kini, di bawah terik siang Aceh Timur, genset-genset itu bukan sekadar mesin. Ia menjadi denyut kehidupan sementara menyalakan kembali aktivitas warga, menggerakkan roda ekonomi, serta menguatkan keyakinan bahwa masyarakat tidak sendiri dalam menapaki jalan pemulihan pascabencana. (MN)