Peran Penting PLTS dalam Percepatan Elektrifikasi dan Dedieselisasi
Ringkasan Berita
Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam mempercepat elektrifikasi. Selain itu, PLTS berperan dalam mendukung program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik. Melalui pengembangan PLTS, pemerintah berupaya menghadirkan akses listrik yang andal, merata, dan lebih bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam mempercepat elektrifikasi. Selain itu, PLTS berperan dalam mendukung program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik. Melalui pengembangan PLTS, pemerintah berupaya menghadirkan akses listrik yang andal, merata, dan lebih bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andriah Feby Misna, secara daring pada acara Media Briefing Indonesia Solar Summit 2026 dengan topik "PLTS Dapat Mendukung Elektrifikasi dan Dedieselisasi di Indonesia", Kamis (9/7/2026).
Feby menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, mencapai sekitar 3.213 GW, namun pemanfaatannya masih relatif kecil dibandingkan potensi yang tersedia. Di sisi lain, bauran pembangkitan listrik nasional masih didominasi oleh pembangkit berbahan bakar fosil, sehingga pengembangan energi surya menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.
"Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar. Potensi ini perlu terus dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan bauran energi baru terbarukan sekaligus memperluas akses listrik bagi masyarakat," ujar Feby.
Pengembangan PLTS memiliki peran strategis dalam melistriki daerah-daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik PLN. Berdasarkan data pemerintah, masih terdapat ribuan desa dan dusun yang belum memperoleh akses listrik secara optimal sehingga membutuhkan solusi pembangkit yang sesuai dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.
Seperti diketahui, pemerintah menerapkan beberapa pendekatan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi. Bagi wilayah yang berada dekat jaringan distribusi, dilakukan perluasan jaringan listrik. Sementara itu, daerah yang jauh dari jaringan akan dilayani melalui pembangunan PLTS komunal atau mini grid apabila permukiman masyarakat terkonsentrasi. Adapun untuk rumah-rumah yang tersebar berjauhan, dapat dilakukan dengan PLTS individual yang dilengkapi sistem penyimpanan energi (baterai) agar masyarakat tetap dapat menikmati listrik hingga malam hari.
Selain meningkatkan rasio elektrifikasi, PLTS mendukung program dedieselisasi dengan mengurangi ketergantungan pembangkit listrik berbahan bakar minyak di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Melalui pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan baterai, pasokan listrik diharapkan dapat tersedia selama 24 jam dengan biaya operasional yang lebih efisien dan emisi yang lebih rendah. Dalam program listrik perdesaan, Kementerian ESDM menargetkan pembangunan akses listrik di sekitar 2.065 lokasi yang mencakup perluasan jaringan sekaligus pembangunan PLTS komunal sebagai solusi elektrifikasi di daerah terpencil. (RO)