Ditjen Gatrik Koordinasikan Penguatan Kurikulum Pelatihan Kendaraan Listrik Roda Dua
Ringkasan Berita
Dalam rangka mendukung percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan bersama Project Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) menyelenggarakan Workshop “Penyelarasan Kurikulum dan Program Pelatihan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Roda Dua” di AONE Hotel, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Dalam rangka mendukung percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan bersama Project Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) menyelenggarakan Workshop “Penyelarasan Kurikulum dan Program Pelatihan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Roda Dua” di AONE Hotel, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri kendaraan listrik roda dua yang terus berkembang. Meningkatnya adopsi KBLBB di Indonesia menuntut ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen Ketenagalistrikan Muhammad Nur Taufiq menegaskan bahwa penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi.
“Percepatan pengembangan ekosistem KBLBB harus diiringi dengan kesiapan tenaga kerja yang kompeten dan tersertifikasi. Karena itu, diperlukan keterhubungan dan keselarasan antara kebutuhan industri dengan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi,” ujar Taufik.
Ia menambahkan bahwa penyelarasan kurikulum, integrasi unit kompetensi berbasis kebutuhan industri, serta penguatan skema sertifikasi merupakan langkah strategis untuk memastikan lulusan siap kerja dan mampu berkontribusi terhadap target penurunan emisi nasional menuju Net Zero Emissions tahun 2060.
“Kegiatan workshop ini menjadi ruang dialog dan kerja kolaboratif antara seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan vokasi yang responsif terhadap kebutuhan industri,” tambahnya.
Dalam sesi pemaparan, Iqbal Hafizhul Lisan dari Su-Re.co menyampaikan bahwa keberhasilan pengembangan ekosistem kendaraan listrik roda dua sangat dipengaruhi oleh kepastian kebijakan serta kesiapan kompetensi tenaga kerja.
“Lebih dari 80 persen penjualan sepeda motor listrik saat ini masih bergantung pada insentif pemerintah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap regulasi,” jelasnya.
Dari sisi pendidikan vokasi, Muhammad Habib dari Direktorat SMK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mengungkapkan bahwa jumlah SMK di Indonesia saat ini mencapai 14.438 sekolah dan didominasi oleh SMK swasta. Jurusan dengan jumlah peserta didik terbanyak berasal dari bidang Teknologi Manufaktur dan Rekayasa.
“Pada SMK yang menyelenggarakan program keahlian Otomotif maupun Teknik Mesin terdapat 7.599 sekolah dengan lebih dari 1 juta peserta didik,” ujarnya.
Besarnya jumlah tersebut menunjukkan potensi SDM vokasi yang signifikan dalam mendukung kebutuhan industri, khususnya di sektor otomotif dan manufaktur berbasis kendaraan listrik.
Melalui workshop ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan rekomendasi konkret terkait penyelarasan kurikulum, penguatan skema sertifikasi, serta strategi implementasi pelatihan KBLBB roda dua secara berkelanjutan guna mendukung percepatan transisi energi nasional. (MN)