Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM terus mendorong penguatan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) melalui pengembangan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik roda dua. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Pemeriksaan Hasil Pembangunan Electric Vehicle Charging Station (EVCS) roda dua di Provinsi Bali pada Kamis (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan transisi energi sekaligus mendukung penggunaan transportasi ramah lingkungan di Bali yang terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan, Ditjen Ketenagalistrikan, Ferry Triansyah menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional melalui penyediaan regulasi, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah melalui Ditjen Ketenagalistrikan terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem KBLBB, termasuk pembangunan infrastruktur charging kendaraan listrik roda dua. Kehadiran EVCS ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik sekaligus mendukung target pengurangan emisi sektor energi,” ujar Ferry.
Ia menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur charging kendaraan listrik perlu didukung kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, dan mitra pembangunan agar pengembangan ekosistem kendaraan listrik dapat berjalan lebih cepat dan merata.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Bali telah lebih dahulu menyiapkan regulasi dan rencana aksi daerah untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik.
“Pada tahun 2019 Pemerintah Provinsi Bali telah menerbitkan regulasi terkait pemanfaatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Saat ini perkembangan kendaraan listrik di Bali mengalami peningkatan cukup pesat dan bahkan melampaui skenario awal yang telah disusun,” ujarnya.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali, hingga akhir tahun 2025 jumlah kendaraan listrik di Bali telah mencapai lebih dari 14 ribu unit, terdiri dari sekitar 4 ribu kendaraan roda empat dan hampir 10 ribu kendaraan roda dua. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, meskipun masih terdapat tantangan dari sisi harga kendaraan dan ketersediaan infrastruktur pendukung.
Setiawan menambahkan bahwa pengembangan EVCS roda dua menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan kendaraan listrik sebagai kendaraan harian.
“Tidak hanya kendaraan yang harus andal, tetapi infrastrukturnya juga harus tersedia dan mudah diakses masyarakat. Pemerintah daerah terus mendorong penyediaan charging station, termasuk di lingkungan kantor pemerintah sebagai bentuk edukasi dan contoh penggunaan kendaraan listrik,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Komponen 2 Proyek ENTREV Duwi Pratiwi menyampaikan bahwa pembangunan EVCS roda dua di Bali merupakan bagian dari dukungan proyek ENTREV dalam memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“ENTREV melihat bahwa kebutuhan penggunaan direct charging untuk roda dua cukup besar, namun pengembangan infrastrukturnya masih belum masuk tahap komersial. Karena itu kami membangun piloting 10 unit charger roda dua di Provinsi Bali yang tersebar di tujuh titik,” ujarnya.
Selain di Bali, proyek ENTREV juga melakukan pembangunan EVCS roda dua di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Secara total terdapat 30 unit charger roda dua yang dibangun pada tiga wilayah percontohan tersebut.
Melalui pembangunan dan pemeriksaan EVCS roda dua ini, diharapkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik semakin meningkat sehingga mampu mempercepat adopsi kendaraan listrik oleh masyarakat serta mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi. (AT)